Posted by: n0bita on: December 14, 2010
Kalian tahu tanah yang subur? Jika hujan turun di atasnya, maka air hujan akan meresap ke dalam tanah. Sebagian sampai ke sungai-sungai bawah tanah, dan sebagian lagi masih berada di lapisan atas. Lalu apa yang terjadi kemudian? Jika dibiarkan, maka kemungkinan aka nada rerumputan yang tumbuh di atasnya. Apalagi jika kita taburkan benih tanaman, kita bisa bercocok tanam, tapi asal itu tanah kalian bukan tanah orang lain.
Ada juga tanah yang keras. Seolah-olah batu karang yang di tengah lautan pindah di situ. Jika kita ingin membajaknya, kita harus memakai alat-alat berat. Bayangkan lagi hujan turun di sana, apa yang terjadi? Mungkin kita bisa memisalkannya dengan aspal jalanan Indonesia yang bergelombang tak rata. Bagaimana jika hujan turun? Tentunya air akan menggenang di setiap cekungan jalanan. Hati-hati jika melewati genangan di jalan, karena bisa jadi di dalamnya adalah lubang yang dalam.
Yang terakhir ada sebuah tanah tandus. Hujan juga ikut-kutan turun di atasnya, sama seperti tanah yang pertama dan kedua. Kali ini kira-kira apa yang terjadi? air hujan memang terserap ke dalam tanah, tapi semua mengalir jauh ke dalam perut bumi. Sedangkan lapisan atas tanah tersebut tak mendapat apa-apa dan kembali lagi tandus seperti semula. Sudah tak ada genangan air, tumbuhan bahkan sekedar rerumputan pun enggan tinggal di situ.
Itulah perumpamaan yang dibuat oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk kita ketika beliau memisalkan 3 golongan manusia dalam hubungan mereka dengan ilmu. Tanah pertama yang subur adalah mereka yang mau menerima ilmu yang datang pada mereka. Lalu apa yang mereka lakukan? ilmu yang sudah mereka dapatkan akhirnya mereka amalkan dan ajarkan pada orang lain. Sama seperti si tanah subur, dia meresap air hujan yang merupakan permisalan dari ilmu, kemudian tak hanya sampai di situ, dia juga menumbuhkan tanaman di atasnya.
Yang kedua adalah orang-orang yang mau menerima ilmu tersebut. Tapi sayang mereka enggan untuk mengamalkannya. Tapi jika ada orang lain yang membutuhkan ilmu tersebut, mereka tak segan untuk berbagi. Itulah tanah yang menahan air hingga menjadi genangan. Air tak meresap dalam tanah, tapi air juga tak hilang begitu saja.
Yang terakhir dan yang paling parah adalah mereka yang bahkan tak mau menerima ilmu. Mereka inilah para dungu dan pander. Ingin tahu bagaimana sifat mereka? Mereka adalah orang yang tak tahu dan tak tahu bahwa mereka tak tahu. Hmmm,apalagi yang lebih buruk dari sifat ini? semoga kita tak termasuk di dalamnya.
Nah, setiap saat ilmu datang pada kita. Pertanyaan pertama adalah apakah kita mau menerimanya? Jika mau kemudian adalah apakah kita mau mengamalkannya? Jika tidak, maka jangan pelit dan menyimpan ilmu itu sendiri, apalagi menghalang-halangi orang untuk mendapatkannya. Artinya, mungkin kita tak baik, tapi jangan karena kita tak baik, orang lain tak bisa atau tak boleh untuk menjadi baik karena kita. Jika sudah tak mau menerima ilmu apalagi mengamalkannya, lebih baik siap-siap untuk sengsara.
tanah itu kalau kena hujan baunya khas… itu yang paling saya ketahui… he he he..
terima kasih sudah add di FB
December 16, 2010 at 5:56 pm
sgala yg tak terbagi akan hilang tak berbekas, ilmu pun juga