Posted by: Yan Tse on: May 29, 2008

Bisnis yang selalu dirundung untung pada jaman kampanye adalah bisnis advertising outdoor. Hitung saja berapa banyak poster, stiker, bahkan baliho yang tertempel di seluruh pelosok wilayah. Jalan-jalan protokol hingga jalan menuju sawah ladang penuh sesak berjajar baliho-baliho pencitraan diri calon pemimpin.
Selain bisnis advertising, tentu saja bisnis konsep pencitraan diri memegang peranan cukup penting. Seorang tokoh yang sebelumnya terkenal bengis dan kejam bisa diganti citra menjadi sosok berwibawa, dan penuh kasih sayang. Semua kuncinya ada di konsep pencitraan tokoh. Entah melalui jargon, maupun visualisasi kegiatan filantropi yang cenderung basa-basi.
CAEM yang membawahi bidang kreatifitas jelata kini pun merambah bisnis tersebut, sub divisinya bernama CABLAK (CAhAndong bagian Baliho Lancarkan Kampanye).
Bisnis ini cukup menjanjikan, terutama dalam kondisi krisis multidimensional yang terus-terusan melanda ibu pertiwi. Di mana seluruh lapisan masyarakat mendambakan sosok ‘Satria Piningit’. Berbagai pilihan calon pemimpin masa depan bermunculan bak jamur kulit, utamanya menjelang pemilihan umum tahun depan.
Keinginan para tokoh untuk mengajukan diri sebagai calon pemimpin seharusnya bukanlah keinginan untuk mencari uang. Apalagi bagi calon dari jelata CA, pantang kiranya untuk maju sebagai pemimpin dengan motivasi mencari uang, tapi motivasinya selalu ditekankan : membuang-buang uang untuk rakyat.
Dengan jargon, “Hidup adalah Kelakuan“, Bung Arya mencoba peruntungan di negeri kurang beruntung ini. Siapa tahu, rakyat akan bosan dengan pilihan yang tersedia, dan khilaf memilih Bung Arya.

www.cahandong.org
May 30, 2008 at 6:25 pm
wah bagus juga ya…